KATA PENGANTAR
Segala Puji bagi Allah tuhan Semesta alam karena berkat
rahmat dan karunianya, penyusun dapat menyusun makalah tugas mata kuliah Pendidikan
Multikultural dengan materi “ Teori Dan Pendekatan Pendidikan Multikultural “.
Dengan makalah ini diharapkan kita dapat memahami seluk
beluk pendidikan multikultural melalui teori-teori dan pendekatan-pendekatan
yang ada sehingga kita dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan kita
sehari-hari.
Penyusun menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan
makalah kami. Karena itu kritik dan saran yang membangun sangat penyusun
harapkan untuk perbaikan selanjutnya.
Akhirnya
penyusun ucapkan terima kasih.
Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
1.
Latar Belakang
Pendidikan Multikultural
merupakan sesuatu yang sangat kompleks. Terdapat banyak teori yang mencoba
mempersepsikan Pendidikan Multikultural tersebut. Dengan mempelajari teori dan
pendekatan multikultural ini, kita akan memperoleh beberapa kajian yang sarat dengan
kaitannya kita sebagai calon guru. Untuk itu dalam materi ini secara khusus
akan dibahas beberapa materi yag kaitannya teori-teori dan
pendekatan-pendekatan Pendidikan Multikultural.
2.
Rumusan Masalah
Adapun
rumusan masalah pada makalah ini adalah :
1. Apa teori-teori yang berkaitan dengan
Pendidikan Multikultural ?
2. Pendekatan
apa saja yang berkaitan Pendidikan Multikultural ?
3.
Tujuan Pembahasan
Tujuan
dari pembahasan makalah ini adalah :
1. Mengetahui teori-teori yang berkaitan
dengan Pendidikan Multikultural
2. Mengetahui pendekatan-pendekatan yang
berkaitan dengan Pendidikan
Multikultural
BAB II
TEORI DAN PENDEKATAN
PENDIDIKAN MULTIKULTURAL
A.
Teori Pendidikan Multikultural
Para pakar
memiliki visi yang berbeda dalam memandang multikultural. Para pakar memiliki
tekanan yang beragam dalam memahami fenomena multikultural tersebut. Maka dari
itu terdapat berbagai teori Pendidikan Multikultural yang dikemukakan oleh para
ahli.
1. Horace
Kallen
Jika budaya
suatu bangsa memiliki banyak segi, nilai-nilai dan lain-lain; budaya itu dapat
disebut pluralisme budaya (cultural pluralism). Teori pluralisme budaya
ini dikembangkan oleh Horace Kallen. Ia menggambarkan pluralisme budaya itu
dengan definisi operasional sebagai menghargai berbagai tingkat perbedaaan,
tetapi masih dalam batas-batas menjaga persatuan nasional. Teori Kallen mengakui
bahwa budaya yang dominan harus juga diakui masyarakat
2. James
A. Banks
Kalau Horace
Kallen perintis teori multikultur, maka James A. Banks dikenal sebagai perintis
Pendidikan Multikultur.
Jadi penekanan dan perhatiannya difokuskan pada pendidikannya. Banks yakin
bahwa sebagian dari pendidikan lebih mengarah pada mengajari bagaimana berpikir daripada apa yang
dipikirkan. Ia menjelaskan bahwa siswa harus diajar memahami semua jenis
pengetahuan, aktif mendiskusikan konstruksi pengetahuan (knowledge construction)
dan interpretasi yang berbeda-beda.
Siswa yang baik
adalah siswa yang selalu mempelajari semua pengetahuan dan turut serta secara
aktif dalam membicarakan konstruksi pengetahuan. Mereka juga harus bisa menjadi
pemikir kritis (critical thinkers) dengan selalu menambah pengetahuan dan
ketrampilan, disertai komitmen yang tinggi. Semuanya itu diperlukan untuk
berpartisipasi dalam tindakan demokratis. Dengan landasan ini, mereka dapat
membantu bangsa ini mengakhiri kesenjangan antara ideal dan realitas (Banks,1993).
Di dalam The
Canon Debate, Knowledge Construction, and Multicultural Education, Banks
mengidentifikasi tiga kelompok cendekiawan yang berbeda dalam menyoroti
keberadaan kelompok - kelompok budaya di Amerika Serikat :
Pertama
adalah traditionalis Barat. Tradisionalis
Barat, seperti halnya dengan kelompok pluralisme budaya dari Horace Kallen,
meyakini bahwa budaya yang dominan dari peradaban Barat yaitu kelompok White,
Anglo Saxon dan Protestan perlu dipresentasikan secara menonjol di sekolah. Kelompok
ini beranggapan bahwa mereka berada dalam posisi terancam dan berbahaya karena
mengenyampingkan kelompok feminis, minoritas dan reformasi multikultural yang
lain. Namun tidak seperti kelompok Pluralisme Budaya Horace Kallen,
tradisionalis Barat masih sedikit memberi perhatian pada pengajaran
keanekaragaman atau multikultur.
Kelompok
kedua yaitu mereka yang menolak kebudayaan Barat secara berlebihan, yaitu
kelompok Afrosentris. Kelompok
ini beranggapan bahwa pengabaian kelompok lain itu memang benar terjadi dan
kelompok ini berpendapat bahwa sejarah dan budaya orang Afrika lah yang
seharusnya menjadi sentral dari kurikulum agar semua siswa dapat mempelajari
peranan Afrika dalam perkembangan peradaban Barat. Afrosentris juga meyakini
bahwa sejarah dan budaya orang Afrika seharusnya menjadi sentral dalam
kurikulum untuk memotivasi siswa Afrika Amerika dalam belajar.
Kelompok
ketiga, Multikulturalis yang
percaya bahwa pendidikan seharusnya direformasi untuk lebih memberi perhatian
pada pengalaman orang kulit berwarna dan wanita. Kelompok ini sekarang sedang
berkembang dan sedang memperjuangkan posisinya di tengah dominasi kelompok yang
sudah mapan.
3. Bill
Martin
Dalam tulisannya
yang berjudul Multiculturalism: Consumerist or Transformational?, Bill
Martin menulis, bahwa keseluruhan isu tentang multikulturalisme memunculkan
pertanyaan tentang "perbedaan" yang nampak sudah dilakukan berbagai
teori filsafat atau teori sosial. Sebagai agenda sosial dan politik, jika
multikulturalisme lebih dari sekedar tempat bernaung berbagai kelompok yang
berbeda, maka harus benar-benar menjadi 'pertemuan' dari berbagai kelompok itu
yang tujuannya untuk membawa pengaruh radikal bagi semua umat manusia lewat
pembuatan perbedaan yang radikal (Martin, 1998: 128)
Menurut Bill Martin,
multikulturalisme bukanlah "konsumeris" tetapi
"transformational", yang memerlukan kerangka kerja. Martin mengatakan
bahwa di samping isu tentang kelas sosial, ras, etnis dan pandangan lain yang
berbeda, diperlukan komunikasi tentang berbagai segi pandangan yang berbeda.
Masyarakat harus memiliki visi kolektif tipe baru dari perubahan sosial menuju
multikulturalisme yaitu visi yang muncul lewat transformasi.
4. Martin
J. Beck Matustik
Martin J. Beck
Matustik berpendapat bahwa perdebatan tentang masyarakat multikultural di
masyarakat Barat berkaitan dengan norma/tatanan. Matustík mengatakan
"Semua segi dalam pembicaraan budaya saat ini mengarah pada pemikiran
kembali norma Barat (the western canon) yang mengakui bahwa dunia multikultural
adalah benar-benar nyata adanya " (Matustík, 1998).
Matustík
mengatakan bahwa teori multikulturalisme meliputi berbagai hal yang semuanya
mengarah kembali ke liberalisasi pendidikan dan politik Plato, filsuf Yunani.
Sebuah karya Plato yang berjudul Republik, bukan hanya memberi norma
politik dan akademis klasik bagi pemimpin dari negara ideal yang dia
cita-citakan, namun juga menjadi petunjuk dalam pembahasan bersama tentang pendidikani
bagi yang tertindas (Matustík, 1998). Ia yakin bahwa kita harus menciptakan
pencerahan multikultural baru (a new multicultural enlightenment) yaitu
"multikulturalisme lokal yang saling berkaitan, secara global sebagai
lawan dari monokultur nasional" (Matustík, 1998).
5. Judith
M. Green
Green menunjukkan bahwa
multikulturalisme bukan hanya unik di A.S. Negara lain pun harus mengakomodasi
berbagai kelompok kecil dari budaya yang berbeda. Kelompok-kelompok ini
biasanya bertoleransi terhadap keuntungan budaya dominan. Secara unik, Amerika
memberi tempat perlindungan dan memungkinkan mereka mempengaruhi kebudayaan
yang ada. Dengan team, kelompok memperoleh kekuatan dan kekuasaan, membawa
perubahan seperti peningkatan upah dan keamanan kerja. Bangsa ini selalu
memandang pendidikan sebagai cara perubahan yang efektif, baik secara personal
maupun sosial. Sehingga lewat pendidikan Amerika meraih kesuksesan terbesar
dalam transformasi. Amerika yang sejak kelahirannya, selalu memiliki masyarakat
multikultural di mana berbagai budaya telah bersatu lewat perjuangan,
interaksi, dan kerjasama (Green, 1998).
B.Pendekatan
Terhadap Pendidikan Multikultural
Sejak tahun 1960-an dapat diidentifikasi ada empat
pendekatan yang mengintegrasikan materi etnis dan multikultural ke dalam
kurikulum: .
1. Pendekatan Kontribusi (The Contributions
Approach).
Level 1 ini
adalah satu dari yang paling sering dan paling luas dipakai dalam fase pertama
dari gerakan kebangkitan etnis (ethnic revival movement). Juga sering digunakan
jika sekolah mencoba mengintegrasikan materi etnis dan multikultural ke dalam
kurikulum aliran utama. Ciri pendekatan kontribusi adalah dengan memasukkan
pahlawan etnis dan benda-benda budaya yang khas ke dalam kurikulum, yang
dipilih dengan menggunakan kriteria budaya aliaran utama. Elemen budaya yang
khas seperti makanan, tari, musik dan benda kelompok etnis dipelajari, namun hanya sedikit memberi perhatian pada makna
dan pentingnya budaya khas itu bagi komunitas etnis.
Karakteristik penting dari
pendekatan kontribusi adalah bahwa kurikulum
aliran utama tetap tidak berubah dalam struktur dasar, tujuan, dan
karakteristik. Persyaratan implementasi pendekatan ini adalah minimal yang
hanya mencakup pengetahuan dasar
mengenai masyarakat AS dan pengetahuan tentang pahlawan etnis dan peranan dan
kontribusinya terhadap masyarakat dan budaya AS.
Individu yang menentang ideologi, nilai dan
konsepsi masyarakat yang dominan dan
yang mendukung reformasi sosial, politik, dan ekonomi radikal jarang dimasukkan dalam pendekatan
kontribusi. Kriteria yang dugunakan
untuk memilih pahlawan etnis untuk dipelajari dan penentuan keberhasilan
perjuangannya berasal dari masyarakat aliran utama dan bukan dari komunitas
etnis. Akibatnya, pemakaian pendekatan kontribusi biasanya menghasilkan
studi tentang pahlawan etnis yang hanya menggambarkan satu perspektif penting
dalam komunitas etnis. Dalam pendekatan kontribusi, individu yang lebih radikal
dan kurang konformis yang hanya menjadi pahlawan bagi komunitas etnis cenderung
untuk diabaikan dalam buku teks, materi pembelajaran dan aktivitas yang
dipakai.
Pendekatan kontribusi seringkali
menghasilkan peremehan budaya etnis,
studi tentang karakteristik aneh dan eksotis mereka, dan penguatan stereotipe
dan salah konsepsi. Jika fokusnya adalah pada kontribusi dan aspek unik
dari budaya etnis, siswa tidak terbantu untuk memandangnya sebagai keseluruhan
yang lengkap dan dinamis. Pendekatan kontribusi juga cenderung berfokus pada gaya kelompok etnis daripada struktur
lembaga seperti rasisme dan diskriminasi, yang secara kuat mempengaruhi
kesempatan hidup mereka dan tetap membuatnya lemah dan terpinggirkan.
Pendekatan kontribusi terhadap
integrasi materi dapat memberi siswa dengan pengalaman sesaat yang dapat
diingat dengan pahlawan etnis, namun seringkali gagal untuk membantunya
memahami peran dan pengaruh pahlawan itu dalam konteks keseluruhan dari sejarah
dan masyarakat Amerika.
2. Pendekatan Aditif (Additive Approach)
Tahap kedua Pendekatan penting
lain terhadap integrasi materi etnis terhadap kurikulum adalah penambahan
materi, konsep, tema dan perspektif terhadap kurikulum tanpa mengubah struktur, tujuan dan karateristik dasarnya. Pendekatan
Aditif (Tahap 2) ini sering dilengkapi dengan penambahan suatu buku, unit, atau
bidang terhadap kurikulum tanpa mengubahnya secara substansial.
Pendekatan aditif memungkinkan
pengajar untuk memasukkan materi etnis ke dalam kurikulum tanpa
restrukturisasi, suatu proses yang akan memakan waktu, usaha, latihan dan
pemikiran kembali dari maksud, sifat dan tujuan kurikulum yang substansial.
Pendekatan aditif dapat menjadi fase awal dalam upaya reformasi kurikulum
transformatif yang didesain untuk menyusun kembali kurikulum total dan untuk
mengintegrasikannya dengan materi, perspektif dan kerangka pikir etnis.
Namun pendekatan ini memiliki
beberapa kelemahan seperti dari pendekatan kontribusi. Yang paling penting
adalah pandangan tentang materi etnis dari perspektif sejarawan, penulis,
artis, dan ilmuwan aliran utama yang tidak memerlukan restrukturisasi
kurikulum. Peristiwa, konsep, isu, dan masalah yang diseleksi untuk studi
diseleksi dengan menggunakan kriteria dan perspektif Eurosentris dan aliran
utama sentris. Pendekatan aditif gagal
membantu siswa melihat masyarakat dari perspektif budaya dan etnis yang berbeda
dan memahami cara yang saling berhubungan sejarah dan budaya dari kelompok
etnis, ras, budaya, dan religi yang berbeda.
Penggunaan kedua materi ini di
kelas dan sekolah yang berbeda telah menimbulkan masalah utama bagi pengajar
yang menggunakannya. Suatu kontroversi masyarakat timbul. Masalah berkembang
karena materi digunakan pada siswa yang tidak memiliki latar belakang isi atau
kepuasan sikap untuk meresponnya secara memadai. Menambahkan materi etnis ke dalam kurikulum menurut cara yang sporadis
dan terpilah-piliah dapat menyebabkan masalah pedagogis, kesulitan bagi guru,
kebingungan siswa, dan kontroversi masyarakat.
3. Pendekatan Transformasi
Pendekatan transformasi (The transformation
approach) berbeda secara mendasar dari pendekatan kontribusi dan aditif. Pada
kedua pendekatan, materi etnis ditambahkan pada kurikukulum inti aliran utama
tanpa mengubah asumsi dasar, sifat, dan strukturnya. Dalam pendekatan
transformasi ada perubahan dalam tujuan, struktur, dan perspektif fundamental
dari kurikulum.
Pendekatan transformasi (tahap 3)
mengubah asumsi dasar kurikulum dan menumbuhkan kompetensi siswa dalam melihat
konsep, isu, tema dan problem dari beberapa perspektif dan sudut pandang etnis.
Perspektif berpusat pada aliran utama adalah hanya satu di antara beberapa perspektif dari mana isu, masalah, konsep, dan
isu dipandang. Tidak mungkin dan tidak inginlah untuk melihat setiap isu,
konsep, peristiwa atau masalah dari sudut pandang setiap kelompok etnis AS.
Lebih dari itu, tujuan seharusnya memungkinkan siswa untuk melihat konsep dan
isu lebih dari satu perspektif dan melihat peristiwa, isu, atau konsep yang
sedang dipelajari dari sudut pandang kelompok etnis, budaya dan ras partisipan
yang paling aktif, atau berpengaruh paling meyakinkan (Banks, 1993: 203).
Isu kurikulum esensial yang
terdapat dalam reformasi kurikulum multikultural bukan penambahan dari daftar
panjang dari kelompok, pahlawan, atau kontribusi etnis namun pemasukan berbagai
perspektif, kerangka pikir, dan materi dari berbagai kelompok yang akan
memperluas pemahaman siswa akan sifat, perkembangan, dan kompleksitas
masyarakat AS.
Dalam seni bahasa, jika siswa
sedang mempelajari sifat bahasa Inggris Amerika, mereka seharusnya dibantu
untuk memahami perbedaan bahasa dan kekayaan linguistik di Amerika Serikat dan
hal-hal dari berbagai kelompok regional, kultural, dan etnis mempengaruhi
perkembangan bahasa Inggris AS. Siswa seharusnya juga mengkaji bagaimana
penggunaan bahasa normatif berbeda dalam konteks sosial, wilayah dan situasi. Jika mempelajari musik, tari, dan
sastra, guru seharusnya memperkenalkan siswa dengan bentuk-bentuk seni di
antara etnis AS yang amat berpengaruh dan memperkaya tradisi seni dan sastra
negara ini.
Jika mempelajari sejarah, bahasa,
musik, seni, sains, dan matematika AS, penekanan seharusnya bukan pada
cara-cara di mana berbagai kelompok etnis dan budaya itu telah berkontribusi
pada aliran utama budaya dan masyarakat AS. Lebih dari itu, penekanan
seharusnya pada bagaimana budaya dan
masyarakat AS pada umumnya muncul dari sintesis dan interaksi kompleks
dari elemen budaya yang berbeda yang asalnya dari berbagai kelompok budaya,
ras, etnis, dan agama yang membentuk masayarakat Amerika. Banks menyebut proses
ini multiple acculturation.
Konsepsi akulturasi ganda (a
multiple acculturation conception) dari masyarakat dan budaya AS mengarah pada
perspektif bahwa memandang peristiwa etnis, sastra, musik, dan seni sebagai
bagian integral dari yang membentuk budaya AS secara umum. Budaya WASP hanya
dipandang sebagai bagian dari keseluruhan budaya yang lebih besar. Jadi
mengajari sastra Amerika tanpa melibatkan penulis kulit berwarna yang
signifikan memberikan pandangan yang parsial dan tidak lengkap tentang sastra,
budaya, dan masyarakat AS.
4. Pendekatan Aksi Sosial (the
Social Action Approach)
Pendekatan Aksi Sosial (the
Social Action Approach) mencakup semua elemen dari pendekatan transformasi
namun menambahkan komponen yang mempersyaratkan siswa membuat keputusan dan
melakukan aksi yang berkaitan dengan konsep, isu, atau masalah yang dipelajari
dalam unit. Tujuan utama dari
pengajaran dalam pendekatan ini adalah mendidik siswa melakukan untuk kritik
sosial dan perubahan sosial dan mengajari mereka ketrampilan pembuatan keputusan.
Untuk memperkuat siswa dan membantu mereka memperoleh kemanjuran
politis, sekolah seharusnya membantunya menjadi kritikus sosial yang reflektif
dan partisipan yang terlatih dalam perubahan sosial. Tujuan tradisional dari persekolahan yang telah ada adalah untuk
mensosialisasi siswa sehingga mereka menerima tanpa bertanya ideologi, lembaga,
dan praktek yang ada dalam masyarakat dan negara.
Pendidikan politik di Amerika
Serikat secara tradisional meningkatkan kepasifan
politik daripada aksi politik. Tujuan
utama dari pendekatan aksi sosial adalah untuk membantu siswa memperoleh
pengetahuan, nilai, dan ketrampilan yang
mereka butuhkan untuk berpartisipasi dalam perubahan sosial sehingga
kelompok-kelompok ras dan etnis yang terabaikan dan menjadi korban ini dapat
menjadi berpartisipan penuh dalam masyarakat AS dan negara akan lebih dekat
dalam mencapai ide demokrasi. Untuk berpartisipasi secara efektif dalam perubahan sosial
yang demokratis, siswa harus diajar kritik sosial dan harus dibantu untuk
memahami inkonsistensi antara ideal dan realitas sosial, kegiatan yang harus
dilakukan untuk mendekatkan jurang pemisah ini, dan bagaimana siswa, sebagai
individu dan kelompok, dapat mempengaruhi sistem politik dan sosial pada
masyarakat AS. Dalam pendekatan ini, pengajar adalah agen perubahan sosial
(agents of social change) yang meningkatkan nilai-nilai demokratis dan kekuatan
siswa.
Pendidikan di AS didominasi oleh
budaya dominan yaitu budaya WASP artinya dikhususkan untuk kelompok berkulit
putih (White) yang kebanyakan berasal dari Inggris, atau yang berbahasa Inggris
(Anglo Saxon) dan beragama Protestan. WASP adalah sebuah tradisi tentang siapa
yang seharusnya menjadi penguasa di Amerika Serikat. Pada awalnya, tradisi ini
diperkenalkan dan dipertahankan oleh orang Inggris yang merasa superior karena
merekalah yang membangun AS dengan pengetahuan dan ketrampilan mereka.
Keyakinan orang Inggris itu dilandasi oleh moralitas
agama Protestan yang diasumsikan sebagai agama yang paling kuat mendorong orang
bekerja keras dan produktif. Belakangan, WASP tidak saja dianut oleh orang
Inggris, tetapi semua White Americans karena dalam kenyataannya kelompok kulit
putih ini memiliki pendapatan tinggi, mempunyai prestasi kerja yang tinggi,
yang sebagian besar anggotanya didominasi oleh jemaat gereja Protestan.
BAB III
PENUTUP
1.
Kesimpulan
Kesimpulan
dari uraian di atas adalah, bahwasanya Pendidikan multikultural memiliki
urgensi yang sangat intens. Terdapat beberapa teori yang mnguraikan seluk beluk
dari Pendidikan Multikultural. Pendekatan-pendekatan yang ada dalam Pendidikan
Multikultural ini dimaksudkan untuk mempermudah proses realisasi yang
integratif dengan mata pelajaran yang lainnya.
2.
Saran
Adapun
saran pada pembahasan makalah ini adalah, lebih banyak lagi referensi atau
kajian pustaka yang diberikan berkaiatan
dengan Pendidikan Multikultural, sehingga tujuan pembahasan yag diinginkan
dapat tercapai dengan baik.
DAFTAR PUSTAKA
Sutarno. 2008. Bahan Ajar Cetak Pendidikan Multikultural. Direktorat
Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional
Tidak ada komentar:
Posting Komentar