KATA PENGANTAR
Segala Puji bagi Allah tuhan Semesta alam karena berkat rahmat dan karunianya, penyusun dapat menyusun materi Belajar dan Pembelajaran dengan materi “ Peranan motivasi dan belajar melalui pengalaman “.
Dengan ini diharapkan kita dapat memahami seluk beluk belajar dan pembelajaran yang erat kaitannya dengan peranan motivasi dan pengalaman dari belajar tersebut melalui teori-teori dan pendekatan-pendekatan yang ada sehingga kita dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan kita sehari-hari.
Penyusun menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan makalah kami. Karena itu kritik dan saran yang membangun sangat penyusun harapkan untuk perbaikan selanjutnya.
Akhirnya penyusun ucapkan terima kasih.
Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Belajar dan pembelajaran merupakan bagian dari pada dunia pendidikan. Dewasa ini banyak pengkaji dan para praktisi teori pendidikan memberikan hasil kajiannya. Dari itu, di dalam makalah ini akan dibahas tentang motivasi dalam belajar dam belajar melalui pengalaman. Berangkat dari permasalahan tersebut, maka seyogyanya kita perlu mengetahui berbagai bentuk permasalahan yang ada dalam peranan memotivasi siswa untuk belajar maupun belajar melalui pengalaman.
2. Rumusan Masalah
Dalam makalah ini akan disampaikan beberapa rumusan masalahnya yaitu :
A. Bagaimana peranan motivasi dalam pembelajaran ?
B. Bagaimana belajar melalui pengalaman ?
3. Tujuan Pembahasan
Adapun tujuan dari pembahasan ini adalah :
A. Mempelajari seluk-beluk peranan motivasi dalam belajar
B. Mempelajari seluk-beluk belajar melalui pengalaman
BAB II
PEMBAHASAN
PERANAN MOTIVASI DALAM BELAJAR
A. Pengertian Motivasi
Motivasi merupakan kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan, menjamin kelangsungan dan memberikan arah kegiatan belajar, sehingga diharapkan tujuan dapat tercapai. Dalam kegiatan belajar, motivasi sangat diperlukan sebab seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar, tidak akan mungkin melakukan aktivitas belajar.
B. Fungsi Motivasi Dalam Belajar
Motivasi berfungsi sebagai pendorong, pengarah, dan sekaligus sebagai penggerak perilaku seseorang untuk mencapai suatu tujuan. Guru merupakan factor yang penting untuk mengusahakan terlaksananya fungsi-fungsi tersebut dengan cara memenuhi kebutuhan siswa. Kebutuhan-kebutuhan tersebut meliputi kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan keselamatan dan rasa aman, kebutuhan untuk diterima dan dicintai, kebutuhan akan harga diri, dan kebutuhan untuk merealisasikan diri.
Adapun fungsi dari motivasi dalam pembelajaran diantaranya :
1. Mendorong timbulnya tingkah laku atau perbuatan, tanpa motivasi tidak akan timbul suatu perbuatan misalnya belajar.
2. Motivasi berfungsi sebagai pengarah, artinya mengarahkan perbuatan untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
3. Motivasi berfungsi sebagai penggerak, artinya menggerakkan tingkah laku seseorang. Besar kecilnya motivasi akan menentukan cepat atau lambatnya suatu pekerjaan.
C. Pengaruh Motivasi Dalam Belajar
Dalam proses pembelajaran, motivasi belajar siswa dapat dianalogikan sebagai bahan bakar untuk menggerakkan mesin. Motivasi belajar yang memadai akan mendorong siswa berperilaku aktif untuk berprestasi dalam kelas.
Pengaruh motovasi dalam belajar dapat mendorong aktivitas siswa untuk melakukan, memikirkan, atau konsentrasi dalam belajar.
D. Strategi Menumbuhkan Motivasi Dalam Belajar
Ada beberapa strategi yang bisa digunakan oleh guru untuk menumbuhkan motivasi belajar siswa, sebagai berikut:
1. Menjelaskan tujuan belajar ke peserta didik.
Pada permulaan belajar mengajar seharusnya terlebih dahulu seorang guru menjelaskan mengenai Tujuan Instruksional Khusus yang akan dicapainya kepada siwa. Makin jelas tujuan maka makin besar pula motivasi dalam belajar.
2. Hadiah
Berikan hadiah untuk siswa yang berprestasi. Hal ini akan memacu semangat mereka untuk bisa belajar lebih giat lagi. Di samping itu, siswa yang belum berprestasi akan termotivasi untuk bisa mengejar siswa yang berprestasi.
3. Saingan/kompetisi
Guru berusaha mengadakan persaingan di antara siswanya untuk meningkatkan prestasi belajarnya, berusaha memperbaiki hasil prestasi yang telah dicapai sebelumnya.
4.Pujian
Sudah sepantasnya siswa yang berprestasi untuk diberikan penghargaan atau pujian. Tentunya pujian yang bersifat membangun.
5. Hukuman
Hukuman diberikan kepada siswa yang berbuat kesalahan saat proses belajar mengajar. Hukuman ini diberikan dengan harapan agar siswa tersebut mau merubah diri dan berusaha memacu motivasi belajarnya.
6. Memberikan perhatian maksimal
Membangkitkan dorongan kepada anak didik untuk belajar Strateginya adalah dengan memberikan perhatian maksimal ke peserta didik.
7. Membantu kesulitan belajar
Membantu kesulitan belajar anak didik secara individual maupun kelompok.
8. Menggunakan metode yang bervariasi.
9. Menggunakan media yang baik dan sesuai dengan tujuan pembelajaran.
Pentingnya peranan motivasi dalam proses pembelajaran perlu dipahami oleh pendidik agar dapat melakukan berbagai bentuk tindakan atau bantuan kepada siswa. Motivasi dirumuskan sebagai dorongan, baik diakibatkan faktor dari dalam maupun luar siswa, untuk mencapai tujuan tertentu guna memenuhi atau memuaskan suatu kebutuhan. Dalam konteks pembelajaran maka kebutuhan tersebut berhubungan dengan kebutuhan untuk belajar. Teori behaviorisme menjelaskan motivasi sebagai fungsi rangsangan (stimulus) dan respons, sedangkan apabila dikaji menggunakan teori kognitif, motivasi merupakan fungsi dinamika psikologis yang lebih rumit, melibatkan kerangka berpikir siswa terhadap berbagai aspek perilaku.
Berdasarkan sumber penyebabnya motivasi dikategorikan menjadi motivasi intrinsik dan ekstrinsik. Sumber motivasi intrinsik adalah minat, kesenangan, kebutuhan yang berasal dari dalam diri siswa, sedangkan motivasi ekstrinsik sangat tergantung pada faktor luar sebagai konsekuensi perilaku. Guru dapat melakukan tindakan atau kegiatan untuk mengubah motivasi siswa dalam pembelajaran untuk mencapai tujuan belajar.
E. Peran Motivasi dalam Proses Pembelajaran
Dalam proses pembelajaran, motivasi belajar siswa dapat dianalogikan sebagai bahan bakar untuk menggerakkan mesin. Motivasi belajar yang memadai akan mendorong siswa berperilaku aktif untuk berprestasi dalam kelas, tetapi motivasi yang terlalu kuat justru dapat berpengaruh negatif terhadap keefektifan usaha belajar siswa.
Peranan guru untuk mengelola motivasi belajar siswa sangat penting, dan dapat dilakukan melalui berbagai aktivitas belajar yang didasarkan pada pengenalan guru kepada siswa secara individual.
Berbagai faktor yang mempengaruhi motivasi dapat dijelaskan dengan menggunakan berbagai teori, di antaranya Maslow dengan hierarki kebutuhannya, kebutuhan untuk berprestasi, teori atribusi, dan model ARCS. Berbagai faktor yang dijelaskan perlu dipahami dan dipertimbangkan dalam merancang kegiatan pembelajaran.
F. Lingkungan Belajar yang Memotivasi Proses Belajar Siswa
Usaha untuk meningkatkan motivasi belajar siswa memerlukan kondisi tertentu yang mengedepankan keterlibatan dan keaktifan siswa dalam pembelajaran. Sejauh mungkin siswa perlu didorong untuk mampu menata belajarnya sendiri dan menggunakan interaksi antarpribadi dengan teman dan guru untuk mengembangkan kemampuan kognitif/intelektual dan kemampuan sosial. Di samping itu, keterlibatan orang tua dalam belajar siswa perlu diusahakan, baik berupa perhatian dan bimbingan kepada anak di rumah maupun partisipasi secara individual dan kolektif terhadap sekolah dan kegiatannya.
G. Motivasi dalam Pembelajaran
Motivasi berpangkal dari kata motif yang dapat diartikan sebagai daya penggerak yang ada di dalam diri seseorang untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi tercapainya suatu tujuan. Bahkan motif dapat diartikan sebagai suatu kondisi intern (kesiapsiagaan). Adapun menurut Mc.Donald, motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya “feeling” dan di dahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan. Dari pengertian yang dikemukakan oleh Mc.Donald ini mengandung tiga elemen/ciri pokok dalam motivasi itu, yakni motivasi itu mengawalinya terjadinya perubahan energi, ditandai dengan adanya feeling, dan dirangsang karena adanya tujuan.
Namun pada intinya bahwa motivasi merupakan kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan, menjamin kelangsungan dan memberikan arah kegiatan belajar, sehingga diharapkan tujuan dapat tercapai. Dalam kegiatan belajar, motivasi sangat diperlukan, sebab seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar, tidak akan mungkin melakukan aktivitas belajar
Pentingnya peranan motivasi dalam proses pembelajaran perlu dipahami oleh pendidik agar dapat melakukan berbagai bentuk tindakan atau bantuan kepada siswa. Motivasi dirumuskan sebagai dorongan, baik diakibatkan faktor dari dalam maupun luar siswa, untuk mencapai tujuan tertentu guna memenuhi atau memuaskan suatu kebutuhan. Dalam konteks pembelajaran maka kebutuhan tersebut berhubungan dengan kebutuhan untuk belajar. Teori behaviorisme menjelaskan motivasi sebagai fungsi rangsangan (stimulus) dan respons, sedangkan apabila dikaji menggunakan teori kognitif, motivasi merupakan fungsi dinamika psikologis yang lebih rumit, melibatkan kerangka berpikir siswa terhadap berbagai aspek perilaku.
Berdasarkan sumber penyebabnya motivasi dikategorikan menjadi motivasi intrinsik dan ekstrinsik. Sumber motivasi intrinsik adalah challenge, curiosity, control, dan fantasy sedangkan motivasi ekstrinsik timbul karena ada rangsangan dari luar. Individu yang termotivasi secara ekstrinsik akan berpartisipasi untuk menghasilkan outcome tertentu seperti reward, pujian dari guru atau terhindar dari hukuman.
Dalam proses pembelajaran, motivasi belajar siswa dapat dianalogikan sebagai bahan bakar untuk menggerakkan mesin. Motivasi belajar yang memadai akan mendorong siswa berperilaku aktif untuk berprestasi dalam kelas, tetapi motivasi yang terlalu kuat justru dapat berpengaruh negatif terhadap keefektifan usaha belajar siswa.
Peranan guru untuk mengelola motivasi belajar siswa sangat penting, dan dapat dilakukan melalui berbagai aktivitas belajar yang didasarkan pada pengenalan guru kepada siswa secara individual.
Usaha untuk meningkatkan motivasi belajar siswa memerlukan kondisi tertentu yang mengedepankan keterlibatan dan keaktifan siswa dalam pembelajaran. Sejauh mungkin siswa perlu didorong untuk mampu menata belajarnya sendiri dan menggunakan interaksi antarpribadi dengan teman dan guru untuk mengembangkan kemampuan kognitif/intelektual dan kemampuan sosial. Di samping itu, keterlibatan orang tua dalam belajar siswa perlu diusahakan, baik berupa perhatian dan bimbingan kepada anak di rumah maupun partisipasi secara individual dan kolektif terhadap sekolah dan kegiatannya.
BAB III
PEMBAHASAN
BELAJAR MELALUI PENGALAMAN
A. Belajar dalam Pembelajaran
Belajar dalam situasi pembelajaran adalah perubahan dalam disposisi manusia atau kapabilitas yang berlangsung selama satu periode tertentu dan yang tidak semata-mata disebabkan oleh proses pertumbuhan dan kematangan. Perubahan dalam bentuk belajar menampakkan diri dalam perubahan pola pikir dan perilaku. Perubahan ini boleh jadi berupa peningkatan kapabilitas untuk kerja. Hasil belajar bisa juga berupa perubahan disposisi pengetahuan, sikap, minat, keterampilan dan nilai. Hasil belajar yang sesungguhnya sifatnya tidak sementara, akan tetapi relatif permanen/menetap.
Proses dan hasil pembelajaran bertumpu pada berbagai prinsip belajar, khususnya bagi pegawai, atau belajar bagi orang dewasa menggunakan pendekatan andragogik. Seseorang belajar akan bermanfaat apabila ia menyadari bahwa apa yang dipelajarinya mempunyai kaitan (arti atau sesuai) dengan kebutuhan bagi perkembangan dirinya. Keberartian dalam belajar akan berpengaruh terhadap efektifitas pembelajaran. Belajar akan menjadi sia-sia apabila apa-apa yang dipelajarinya bertentangan dan akan merusak intergritas pribadi seseorang. Seorang yang belajar seyogyanya, hasil belajarnya dapat memperkaya dan memperkuat integritas pribadinya.
Belajar melalui pengalaman (experiencing) berarti belajar berhadapan langsung dengan masalah praktis, masalah sosial yang nyata, dan berupaya untuk menyelesaikannya. Cara belajar berdasarkan pengalaman akan memberikan makna bagi peserta didik. Tentu saja pembelajar harus berperan aktif dalam situasi pembelajaran yang disiapkan oleh pengelola atau Widyaiswara yang bertindak sebagai fasilitator. Pembelajar didorong untuk berprakarsa, mengajukan usul, menemukan cara terbaik untuk mempelajari sesuatu bahan.
B. PENGERTIAN BELAJAR
Hampir sepanjang hidupnya manusia mengalami proses belajar, sehingga dikatakan kegiatan belajar tidak dapat dilepaskan dari kehidupan sehari-hari manusia. Mungkin tanpa disadari bahwa hampir seluruh kemampuan manusia diperoleh dari belajar karena setiap manusia pada hakikatnya mempunyai kemampuan bawaan untuk belajar, untuk berkembang dan untuk maju.
Definisi belajar menurut Wittig (1981) any relatively permanent change in an organism’s behavioral repertoire that occurs as a result of experience. Belajar ialah perubahan yang relatif menetap yang terjadi dalam segala macam/keseluruhan tingkah laku suatu organisme sebagai hasil pengalaman.
Menurut Hintzman (1978) belajar adalah suatu perubahan yang terjadi dalam diri organisme, manusia atau hewan, disebabkan oleh pengalaman yang dapat mempengaruhi tingkah laku organisme tersebut. Jadi dalam pandangan Hintzman, perubahan yang ditimbulkan oleh pengalaman tersebut baru dapat dikatakan belajar apabila mempengaruhi organisme. Hintzman juga mengatakan pengalaman hidup sehari-hari dalam bentuk apapun sangat memungkinkan untuk diartikan sebagai belajar.
C. PENGERTIAN PENGALAMAN
Pengalaman adalah suatu kejadian yang telah dialami (Chaplin, 1968). Dalam hidupnya orang dewasa mempunyai banyak pengalaman yang beraneka ragam. Pada masa kanak-kanak pengalaman merupakan hal yang baru sehingga dalam proses belajar orang dewasa pengalaman dianggap sebagai sumber belajar yang sangat kaya.
Bagaimana seseorang memperoleh pengalaman dapat dibedakan dalam dua cara yaitu (1) memperoleh pengalaman dengan cara tidak sengaja, yaitu apa yang dialami oleh seseorang dengan tidak sengaja itu dimasukkan dalam ingatannya; (2) memperoleh pengalaman dengan sengaja yang kemudian dimasukkan dalam ingatannya.
D. BELAJAR KONTEKSTUAL
Belajar kontekstual adalah mempelajari sesuatu sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya. Untuk mengoptimalkan belajar kita perlu menciptakan konteks yang memungkinkan kita mempelajari sesuatu sesuai dengan kenyataannya. Untuk itu kita perlu menyiapkan konteks tempat belajar. Hendaknya konteks tersebut positif, mendukung dan mengundang minat. Diharapkan komunitas belajar menjadi tempat yang meningkatkan kesadaran, daya dengar, partisipasi, umpan balik, dan pertumbuhan. Lingkungan dimana kita dapat beranjak ke keadaan prima, mau bertanggungjawab dan dapat saling mempercayai.
E. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI BELAJAR
Secara global menurut Muhibbinsyah (2003) dalam bukunya Psikologi Belajar, faktor-faktor yang mempengaruhi belajar dapat dibedakan menjadi tiga macam :
• Faktor internal (faktor dari dalam pembelajar), yakni keadaan/kondisi jasmani dan rohani siswa.
o Aspek fisiologis: seseorang yang sehat dapat berpikir dan menyerap informasi dengan baik
o Aspek psikologis: aspek ini berkaitan dengan tingkat kecerdasan, sikap, bakat, minat dan motivasi seseorang.
• Faktor eksternal (faktor dari luar pembelajar), yaitu kondisi lingkungan
• Lingkungan sosial misalnya teman sebangku dan guru. Perilaku mereka dapat memberi semangat seseorang untuk belajar.
• Lingkungan Non-sosial seperti ruangan tempat belajar dan waktu yang disukai untuk belajar
• Faktor pendekatan belajar (approach to learning) yakni upaya belajar seseorang yang meliputi strategi dan metode yang digunakan seseorang untuk melakukan kegiatan pembelajaran. Misalnya seseorang yang menggunakan pendekatan mendalam (deep approach) akan mempelajari sesuatu secara maksimal dengan pemahaman, mencari tahu dan berdiskusi.
F. BELAJAR DARI PENGALAMAN
Belajar dari pengalaman dapat dibedakan dalam dua cara yaitu :
1. Dengan cara tidak sengaja
Memperoleh pengalaman dengan cara tidak sengaja, yaitu apa yang dialami oleh seseorang dengan tidak sengaja itu dimasukkan dalam ingatannya. Hal ini jelas terlihat pada anak-anak, contohnya gelas kalau jatuh dapat pecah, kayu itu keras kalau dipukulkan ke tubuh bisa menimbulkan rasa sakit. Pengalaman-pengalaman ini disimpannya dalam ingatan sebagai pengertian-pengertian.
2. Dengan cara sengaja
Seseorang memperoleh pengalaman dengan sengaja yaitu apabila seseorang dengan sengaja memasukkan pengalaman-pengalaman dan pengetahuannya dalam psikisnya. Dalam bidang ilmu pada umumnya orang akan memperoleh pengetahuan dengan sengaja. Dengan demikian orang dengan sengaja mempelajari hal-hal atau keadaan-keadaan yang kemudian dimasukkan dalam ingatannya.
BAB IV
DAFTAR PUSTAKA
Nabisi Lapono, Dkk.2008.Belajar dan pembelajaran SD.Dirjen pendidikan tinggi Depdiknas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar